Sabtu, 07 Desember 2013 0 komentar

SHEILA 0N 7 - Sebuah Kisah Klasik


Jabat tangan ku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita ber-bincang, tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku
Kita terharu, seakan tiada bertemu lagi

Bersenang-senanglah,
kar’na hari ini akan kita rindukan,
di hari nanti,
sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah,
kar’na waktu ini akan kita banggakan,
di hari tua, wo~…

[Reff:]
Sampai jumpa kawanku
S’moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik, untuk masa depan
(x2)

Bersenang-senanglah,
kar’na hari ini akan kita rindukan,
di hari nanti, wo~…
[Reff]

Mungkin diriku, masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku, masih haus sanjungan kalian
0 komentar

Benarkah Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang ?


Share on facebook
Share on twitterShare on emailShare on printMore Sharing Services
ATLANTIS adalah legenda, Atlantis adalah misteri, dan Atlantis selalu mengundang pertanyaan. Benua yang disebut sebagai taman eden atau surga itu diyakini menjadi pusat peradaban dunia pada zaman es.
Meskipun manusia sudah mencari sisa-sisa keberadaan kota ini selama ratusan tahun dan lebih dari 5.000 buku mengenai Atlantis diterbitkan, tidak ada satu pun yang bisa memastikan di mana sebenarnya Atlantis berada dan benarkah Atlantis itu memang ada atau hanya dongeng yang dikisahkan filsuf Yunani, Plato. Ratusan ekspedisi yang menjelajahi Siprus, Afrika, Laut Mediterania, Amerika Selatan, Kepulauan Karibia hingga Mesir untuk mencari jejak Atlantis pun belum memperoleh bukti valid di mana surga Atlantis berada.
Setelah puluhan wilayah sebelumnya tidak juga memberi bukti valid, Indonesia kini disebut-sebut sebagai tempat Atlantis sesungguhnya, sebuah surga dunia yang tenggelam dalam waktu sehari semalam. Di antara begitu banyak pakar yang meyakini Atlantis berada di Indonesia adalah Profesor Arysio Santos. Geolog dan fisikawan nuklir asal Brasil ini melakukan penelitian selama 30 tahun untuk meneliti keberadaan Atlantis. Lewat bukunya, Atlantis: The Lost Continent Finally Found, Santos memberikan sejumlah paparan serta analisisnya. Santos menelusur lokasi Atlantis berdasarkan pendekatan ilmu geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan comparative mythology.
 Santos meyakini benua menghilang akibat letusan beberapa gunung berapi yang terjadi bersamaan pada akhir zaman es sekira 11.600 tahun lalu. Di antara gunung besar yang meletus zaman itu adalah Gunung Krakatau Purba (induk Gunung Krakatau yang meletus pada 1883) yang konon letusannya sanggup menggelapkan seluruh dunia. Letusan gunung berapi yang terjadi bersamaan ini menimbulkan gempa, pencairan es, banjir, serta gelombang tsunami sangat besar. Saat gunung berapi itu meletus, ledakannya membuka Selat Sunda. Peristiwa itu juga mengakibatkan tenggelamnya sebagian permukaan bumi yang kemudian disebut Atlantis.
Berdasarkan cerita Plato, Atlantis merupakan negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Dasar inilah yang menjadi salah satu teori Santos mengenai keberadaan Atlantis di Indonesia. Perlu dicatat bahwa Atlantis berjaya saat sebagian besar dunia masih diselimuti es di mana temperatur bumi kala itu diperkirakan lebih dingin 15 derajat Celsius daripada sekarang. Wilayah yang bermandi sinar matahari sepanjang waktu pastilah berada di garis khatulistiwa dan Indonesia memiliki prasyarat untuk itu. Dalam cerita yang dituturkan Plato, Atlantis juga digambarkan menjadi pusat peradaban dunia dari budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, bahasa, dan lain-lain.
 Plato juga menceritakan negara Atlantis yang kaya dengan bahan mineral serta memiliki sistem bercocok tanam yang sangat maju. Merujuk cerita Plato, wilayah Atlantis haruslah berada di daerah yang diyakini beriklim tropis yang memungkinkan adanya banyak bahan mineral dan pertanian yang maju karena sistem bercocok tanam yang maju hanya akan tumbuh di daerah yang didukung iklim yang tepat seperti iklim tropis. Kekayaan Indonesia termasuk rempah-rempah menjadi kemungkinan lain akan keberadaan Atlantis di wilayah Nusantara ini. Kemasyhuran Indonesia sebagai surga rempah dan mineral bahkan kemudian dicari-cari Dunia Barat.
Menurut Santos, pulau-pulau di Indonesia yang mencapai ribuan itu merupakan puncak-puncak gunung dan dataran-dataran tinggi benua Atlantis yang dulu tenggelam. Satu hal yang ditekankan Santos adalah banyak peneliti selama ini terkecoh dengan nama Atlantis. Mereka melihat kedekatan nama Atlantis dengan Samudera Atlantik yang terletak di antara Eropa, Amerika dan Afrika. Padahal pada masa kuno hingga era Christoper Columbus atau sebelum ditemukannya Benua Amerika, Samudra Atlantik yang dimaksud adalah terusan Samudra Pasifik dan Hindia.
Sekali lagi Indonesia memiliki syarat untuk itu karena Indonesia berada di antara dua samudera tersebut. Jika terdapat begitu banyak kemungkinan Indonesia menjadi lokasi sesungguhnya Atlantis lalu, mengapa selama ini nama Indonesia jarang disebut-sebut dalam referensi Atlantis? Santos menilai keengganan Dunia Barat melakukan ekspedisi ataupun mengakui Indonesia sebagai wilayah Atlantis adalah karena hal itu akan mengubah catatan sejarah tentang siapa penemu perdaban. Dengan adanya sejumlah bukti mengenai keberadaan Atlantis di Indonesia maka teori yang mengatakan Barat sebagai penemu dan pusat peradaban dunia akan hancur.
Berdasarkan penelitian, gen yang dimiliki penduduk asli Natuna mirip dengan bangsa Austronesia tertua. Rumpun bangsa Austronesia yang menjadi cikal bakal bangsa-bangsa Asia merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah keberadaan manusia. Rumpun ini kini tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Rumpun bangsa ini juga melahirkan 1.200 bahasa yang kini tersebar di berbagai belahan bumi dan dipakai lebih dari 300 juta orang. Yang menarik, 80 persen dari rumpun penutur bahasa Austronesia tinggal di Kepulauan Nusantara Indonesia. Namun, pendapat Santos dkk yang meyakini bahwa Atlantis berada di Indonesia ini masih harus dikaji karena kurang dilengkapi bukti-bukti.


Sumber Berita: http://lbsmix.com/berita-benarkah-indonesia-adalah-benua-atlantis-yang-hilang.html#ixzz2mmZNd2yr
0 komentar

Kota Epecuen Timbul Lagi Setelah Tenggelam 28 tahun

 


BUENOS AIRES, (PRLM).-Sebelum bencana banjir pada 1985, Kota Epecuen di selatan Ibu Kota Argentina, Buenos Aires, dikenal sebagai kawasan yang sangat indah dengan pemandangan danaunya yang berair asin.


Ini pula membuat, Epecuen dikenal sebagai kota spa lantaran perairan di sana punya kandungan garam tinggi yang bermanfaat untuk menyembuhkan sejumlah penyakit kulit. Namun, bajir yang melanda Epecuen pada 10 November 1985 telah menenggelamkan kota indah itu ke dalam lautan.

Ratusan tempat spa dan gedung lainnya lenyap dalam semalam akibat banjir parah itu. Selain itu, 1.500 warga setempat terpaksa pinda ke kota lain.

Namun, dalam dua tahun terakhir ini, genangan air di kawasan Epecuen mulai menyurut sehingga sejumlah bangunan yang tenggelam dulu, mulai kelihatan lagi sedikit demi sedikit, sebagaimana terekam dalam sejumlah foto yang diabadikan fotografer AFP



Ini adalah Villa Epecuen, sebuah kota turis tua di selatan Buenos Aires, Argentina yang telah menghabiskan seperempat abad di bawah air. Didirikan pada tahun 1920 di tepi sebuah danau garam, kota tersebut merupakan rumah bagi lebih dari 5.000 warga dan tujuan wisata atau tempat berlibur bagi ribuan orang dari ibukota Argentina.



Pada tahun 1985, sebuah bendungan meledak dan mengubur kota di kedalaman 33 kaki dari air garam, menyebabkannya menjadi Atlantis modern hari ini. Awalnya, orang menunggu di atap rumah mereka, berharap air surut. Hal tersebut tidak terjadi dan dalam waktu dua hari, tempat itu menjadi kota hantu yang hancur


Pada tahun 2009, air mulai surut dan apa yang muncul menyerupai dunia apokaliptik.

Pohon mati masih berbaris dalam jarak yang sama rata seperti digunakan di jalan, kerangka tempat tidur berkarat menyodok keluar dari puing-puing beton dan tanda arah menunjuk ke mana-mana.


Hebatnya, salah seorang warga tetap bertahan di tempat terpencil tersebut. Pablo Novak adalah satu-satunya orang yang tidak meninggalkan kampung halamannya ketika air menelannya pada tahun 1985. Dia tinggal di sebuah pondok batu dengan kulkas dan kompor.

PICT more :




 
;